
Yogyakarta, 18 Februari 2026 – Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (PPPM) Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) menyelenggarakan agenda “Bedah Proposal Penelitian STMM 2026” di Gedung Transformasi Digital, STMM Yogyakarta, Rabu (18/2). Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi strategis dengan Pusat Riset Kebijakan Publik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memastikan kualitas dan kontribusi keilmuan dari setiap usulan penelitian dosen.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari tahap review yang telah dilakukan sebelumnya oleh para peneliti BRIN. Dalam sesi ini, 25 tim peneliti yang proposalnya dinyatakan lolos tahap awal dibagi ke dalam tujuh ruangan—lima ruangan secara luring (offline) dan dua ruangan secara daring (online)—untuk mendapatkan catatan perbaikan mendalam langsung dari pakar BRIN.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua STMM, Dr. RM. Agung Harimurti, M.Kom., menekankan bahwa riset bukan sekadar pemenuhan kewajiban Tridharma Perguruan Tinggi, melainkan fondasi bagi akreditasi institusi dan pembangunan bangsa. Beliau menyoroti tantangan anggaran riset di Indonesia yang saat ini baru mencapai angka 0,007 persen, masih jauh dibandingkan negara maju yang mengalokasikan sekitar 3 persen dari anggaran mereka.

Lebih lanjut, PPPM juga mengundang stakeholders terkait untuk menginformasikan mengenai rincian anggaran penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), serta upaya institusi guna memastikan kegiatan akademik tetap berjalan optimal.
Kepala Pusat PPM STMM juga memaparkan teknis pelaksanaan riset tahun anggaran 2026. Tercatat sebanyak 25 proposal telah dinyatakan lolos untuk memasuki tahap pembedahan ini. Beliau mengingatkan para peneliti bahwa pelaksanaan riset tahun ini akan tetap mengacu pada Standar Biaya Masukan (SBM) dengan beberapa batasan teknis, termasuk durasi perjalanan dinas penelitian yang dibatasi maksimal empat hari dengan lokus penelitian di wilayah DIY dan Jawa Tengah.
Melalui kegiatan bedah proposal ini, PPPM STMM berharap dapat mempertajam metodologi dan output penelitian dosen, sehingga riset yang dihasilkan tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata atas permasalahan di Indonesia.


(Tim PPM STMM – AD & YSH)




